Bandar Lampung, DN
Di tengah derasnya arus digitalisasi, seni tradisi menghadapi tantangan besar untuk tetap bertahan di kalangan generasi muda.
Menjawab situasi tersebut, Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai (Saburai) secara resmi membuka Diskusi Seni Tradisi & Workshop Gambus Lunik pada 26–27 November 2025.
Kegiatan ini merupakan upaya konkret menghidupkan kembali minat mahasiswa terhadap budaya lokal.
Rektor Universitas Saburai, Dr. Sodirin, SE., MM, yang membuka acara tersebut, menegaskan bahwa seni tradisi harus dilihat sebagai kekuatan, bukan masa lalu yang terpinggirkan.
“Teman-teman mahasiswa sekalian, kita hidup di masa digital semua serba cepat, praktis, dan modern. Tapi di tengah semua itu, ada sesuatu yang tidak boleh hilang: akar budaya kita,” ujar Sodirin dalam sambutannya.
Ia menegaskan bahwa seni tradisi seperti Gambus Lunik bukanlah sesuatu yang kuno.
“Lewat workshop ini, kita ingin menunjukkan bahwa seni tradisi bisa diangkat kembali, dikembangkan, dan dikemas menjadi karya yang kekinian dan relevan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor Saburai juga menyampaikan penghargaan khusus kepada wartawan senior H. Ahmad Bastari, M.Si.
“Beliau tidak hanya menjadi teladan di dunia pers, tetapi juga sosok yang selalu memberikan arahan, bimbingan, dan dukungan bagi perkembangan Universitas Saburai. Kami sangat menghormati perhatian beliau terhadap kampus ini,” tegasnya.
Sodirin turut memberikan apresiasi kepada Erwin Putubasai, ketua pelaksana kegiatan, yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi di tengah gempuran budaya modern.
“Terima kasih banyak Pak Erwin atas kerja keras dan dedikasinya menginisiasi kegiatan ini,” ucapnya.
Tak lupa, ketua MCMI Lampung itu juga menyampaikan terima kasih kepada para narasumber: seniman dan budayawan Ari Pahala Hutabarat, wartawan senior Ahmad Bastari, serta komposer Editya Rio Wirawan, yang hadir berbagi wawasan bagi para peserta.
Kepada mahasiswa, Sodirin memberikan dorongan agar memanfaatkan kesempatan ini sebagai ruang kreativitas.
“Ikuti kegiatan ini dengan semangat dan terbuka. Siapa tahu dari workshop ini lahir musisi, peneliti, atau kreator muda yang bisa mengangkat budaya Lampung ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ketua Pelaksana, Erwin Putubasai, menegaskan seni tradisi memiliki nilai yang tidak bisa digantikan oleh budaya populer.
“Seni tradisi adalah ekspresi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari identitas suatu bangsa. Namun di era digital, mahasiswa cenderung lebih tertarik seni modern, konten digital, dan musik urban. Akibatnya, komunitas seni tradisi kesulitan merekrut anggota baru,” ungkap Erwin.
Ia menilai bahwa seni tradisi tidak boleh sekadar dipertahankan, tetapi juga harus dikemas ulang agar relevan bagi generasi kekinian.
“Seni tradisi bisa dikemas melalui live streaming, kolaborasi dengan musik elektronik, atau konten media sosial. Cerita di balik musik dan tarian tradisi harus disampaikan dengan cara yang sederhana dan dekat dengan kehidupan mahasiswa,” lanjutnya.
Erwin juga menegaskan bahwa mahasiswa sebenarnya merupakan lahan potensial untuk kebangkitan seni tradisi.
“Jika mereka diberi ruang untuk berkreasi, mahasiswa bisa menjadi influencer budaya, kreator musik tradisi modern, bahkan duta pelestarian budaya,” imbuhnya.
Acara ini akan diikuti perwakilan UKM Seni dari berbagai perguruan tinggi di Lampung, seperti UBL, Polinela, UMITRA, Malahayati, Teknokrat, Darmajaya, Selira, ITERA, dan Unila. Kegiatan berlangsung di Graha Saburai Lantai III dan diharapkan menjadi momentum kebangkitan seni tradisi di era serbadigital.(*)





